Uni Eropa Andalkan Pendanaan Swasta untuk Pacu Ambisi Teknologi Kuantum
JAKARTA — Uni Eropa berupaya menarik pendanaan swasta untuk memperkuat posisinya dalam teknologi kuantum dan menjadi pemimpin global di bidang ini pada tahun 2030. Hal ini disampaikan oleh Kepala Teknologi Uni Eropa, Henna Virkkunen, pada Rabu 2 Juli, saat mengumumkan EU Quantum Strategy.
Teknologi kuantum diyakini mampu meningkatkan kecepatan pemrosesan data secara signifikan dibandingkan dengan komputasi konvensional. Menurut McKinsey, teknologi ini diperkirakan akan berdampak pada seluruh sektor ekonomi dan bernilai triliunan dolar AS dalam dekade mendatang.
"Kita sekarang harus lebih fokus pada pendanaan swasta karena kita sudah sangat kuat dalam pendanaan publik," kata Virkkunen dalam konferensi pers.
Dalam lima tahun terakhir, Komisi Eropa dan negara-negara anggota Uni Eropa telah menggelontorkan lebih dari 11 miliar euro (sekitar Rp210,5 triliun) dalam pendanaan publik untuk pengembangan teknologi kuantum.
Namun, hanya 5% dari total investasi swasta global di bidang kuantum yang masuk ke Eropa. "Karena itu, kami akan bekerja secara khusus untuk mendorong pendanaan swasta dalam beberapa bulan ke depan," tegas Virkkunen.
Baca juga:
Strategi Kuantum Uni Eropa juga mencakup penggabungan keahlian dan sumber daya antarnegara dalam bidang penelitian, infrastruktur kuantum, serta pengembangan ekosistem start-up dan perusahaan teknologi skala menengah. Strategi ini juga menyoroti penggunaan teknologi kuantum untuk tujuan ganda, termasuk keamanan dan pertahanan.
Virkkunen menambahkan bahwa start-up teknologi kuantum Eropa perlu mendapat perhatian khusus. "Start-up kuantum di Eropa sangat rentan untuk diakuisisi oleh entitas asing atau pindah ke wilayah lain yang memiliki pendanaan lebih baik. Karena itu, kita harus bertindak sekarang," ujarnya.
Untuk memperkuat strategi tersebut, Komisi Eropa akan mengusulkan undang-undang baru bernama Quantum Act pada tahun depan.