Kaspersky: UMKM Makin Jadi Sasaran Ancaman Siber yang Meniru Chatbot AI
JAKARTA - Laporan Kaspersky menemukan bahwa pada tahun 2025, hampir 8.500 usaha UMKM menjadi korban serangan siber, lewat perangkat lunak berbahaya yang menyamar sebagai aplikasi produktivitas daring.
Analis Kaspersky menemukan lebih dari 4.000 file berbahaya didistribusikan dengan menyamar sebagai 12 aplikasi populer, termasuk alat kolaborasi seperti Teams, Google Drive, dan layanan AI.
Dalam temuannya, perusahaan keamanan siber global itu menemukan bahwa ancaman yang meniru ChatGPT melonjak 115% dalam empat bulan pertama 2025, mencapai 177 file, sementara DeepSeek menyumbang 83 file.
“Menariknya, pelaku ancaman agak pilih-pilih dalam memilih alat AI sebagai umpan. Kemungkinan penyerang akan menggunakan alat sebagai penyamaran untuk malware atau jenis perangkat lunak yang tidak diinginkan lainnya secara langsung bergantung pada popularitas layanan,” kata Vasily Kolesnikov, pakar keamanan Kaspersky.
Selain aplikasi AI, Zoom menjadi aplikasi yang paling sering ditiru, mencakup 41% dari total file, disusul Microsoft Outlook (16%), PowerPoint (16%), dan Excel (12%). Sementara Word dan Teams masing-masing mencakup 9% dan 5%.
Selain malware, UMKM juga dibanjiri email phishing dan spam. Skema penipuan ini menyasar kredensial login atau menipu korban untuk mentransfer dana.
Baca juga:
- Senat AS Hapus Larangan Regulasi AI oleh Negara Bagian dari RUU Besar Trump
- Cloudflare Luncurkan Alat untuk Bantu Pemilik Situs Web Monetisasi Akses Bot AI
- Grammarly Akuisisi Startup Email Superhuman untuk Dorong Platform AI
- Gemini Live Makin Canggih, Google Siapkan Dukungan Ekstensi untuk Spotify, Clock, dan Aplikasi Populer Lainnya
“Salah satu contohnya adalah upaya phishing yang menargetkan Akun Google. Penyerang menjanjikan calon korban untuk meningkatkan penjualan dengan mengiklankan perusahaan mereka di X, dengan tujuan akhir untuk mencuri kredensial mereka,” jelasnya.
Untuk itu, Kaspersky mengingatkan UMKM agar tetap berhati-hati saat mengunduh perangkat lunak atau menerima tawaran mencurigakan, terutama yang mengatasnamakan layanan populer atau AI.