Amerika Serikat di Antara Fasilitas Nuklir Iran, Bunker Buster dan Diego Garcia
JAKARTA - Sejumlah pesawat pembom Amerika Serikat yang mampu membawa bunker buster (penghancur bunker) terlihat berada di pangkalan militer Diego Garcia di Samudra Hindia, saat konflik Iran dan Israel terus berlangsung.
Citra satelit yang diambil pekan ini menunjukkan keberadaan empat B-52 Stratofortress yang secara teknis dapat menjatuhkan bom GBU-57 seberat 13.600 kg yang dibutuhkan untuk menembus jaringan bunker bawah tanah.
Pesawat-pesawat itu terlihat oleh perusahaan citra satelit komersial Planet Labs, dan melacak bagaimana keseimbangan pesawat di pangkalan tersebut telah berubah saat situasi di Timur Tengah memburuk, dikutip dari The National 20 Juni.
Israel melancarkan serangan udara ke Iran dalam operasi "Raising Lion" pada Jumat 13 Juni, menyasar target fasilitas nuklir dan militer Iran. Itu memicu serangan balasan berupa rudal dan drone yang diluncurkan Iran.
Enam pesawat tempur multiperan F-15 juga telah tiba dalam beberapa hari terakhir dan akan digunakan untuk melindungi pangkalan udara tersebut dari serangan pesawat nirawak atau rudal jelajah Iran.
Enam pesawat tanker KC-135 juga berada di sana, memberi Amerika pilihan untuk mengisi bahan bakar pesawat saat mendekati Iran jika diperlukan.
Ada juga prospek, dengan pergerakan pesawat ke Diego Garcia yang masih aktif, pesawat pengebom siluman B-2 Spirit (juga mampu membawa GBU-57) juga dapat mendarat di sana, yang telah terlihat dalam beberapa bulan terakhir.
Diego Garcia kemungkinan akan digunakan sebagai pangkalan untuk serangan "bertahan" terhadap Iran, menurut informasi yang diperoleh The National.
"Meskipun mereka dapat menjatuhkan GBU-57, fakta mereka harus terbang lurus dan datar berarti B-52 akan menjadi sasaran empuk jika digunakan di atas Iran," kata pakar penerbangan militer Tim Ripley.
"Tetapi mereka membawa 20 rudal jelajah, yang dapat mereka luncurkan dari jarak jauh," tambahnya.
Nilai total jet yang ada saat ini mendekati 1,5 miliar dolar AS, berbeda dengan biaya 12 miliar dolar ASS untuk enam B-2 yang berada di pangkalan dua bulan lalu dan tampaknya telah dipindahkan kembali ke AS.
Semula, pesawat-pesawat itu ada di sana untuk digunakan melawan Houthi Yaman sebagai bagian dari kampanye pengeboman Amerika Serikat sebelum gencatan senjata disepakati.
Mereka adalah pesawat termahal yang pernah dibuat dan satu-satunya yang disertifikasi untuk menjatuhkan bom GBU-57.
Kepergian mereka membuat kemungkinan jika Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk mendukung Israel dengan menyerang fasilitas nuklir Fordow milik Iran yang tersembunyi di gunung, serangan akan diluncurkan dari Amerika Serikat.
B-2 akan terbang dari pangkalan angkatan udara Whiteman di Missouri, AS langsung ke lokasi dekat Qom, Iran yang jarak 11.200 km.
Meskipun itu adalah batas jangkauan, B-2 akan dapat menerima pengisian bahan bakar udara-ke-udara dari tanker yang ditempatkan di Timur Tengah dan Eropa.
Fordow yang berada 300 kaki di bawah tanah, hanya dapat dijangkau bom dengan kemampuan penetrasi yang dimiliki GBU-57 atau Massive Ordonance Penetrator (MOP) yang hanya dimiliki oleh AS, sehingga Israel ingin sasaran ini tercapai dengan bantuan militer AS, menurut laporan USA Today.
Sejatinya, Israel juga memiliki bunker buster buatan AS, tapi daya jangkaunya lebih dangkal seperti GBU-28 dan BLU-109 yang dijatuhkan dari jet tempur F-15, dikutip dari Al Jazeera.
Tahun lalu, Israel dilaporkan berhasil membunuh Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah di markas bawah tanahnya di Beirut, Lebanon dengan menggunakan bom BLU-109.
Kemarin, Presiden Trump menurut Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt akan mempertimbangkan apakah AS akan membantu Israel dalam menyerang Iran atau tidak, dikutip dari Reuters.
Meski Presiden Trump tertarik untuk mengupayakan solusi diplomatik dengan Iran, prioritasnya tetap, memastikan Teheran tidak memeroleh senjata nuklir.
Sumber-sumber yang mengetahui mengatakan, Presiden Trump menilai masuk akal AS ikut menyerang Iran jika bunker buster mampu menghancurkan fasilitas pengayaan uranium Iran di Fordow, seperti melansir The Guardian.
Presiden Trump sudah diberitahu, menjatuhkan GBU-57 akan efektif melenyapkan Fordow. Tetapi Ia tidak sepenuhnya yakin, kata sumber-sumber itu.
Presiden Trump tidak mempertimbangkan untuk menggunakan senjata nuklir taktis di Fordow dan kemungkinan itu tidak disampaikan oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine dalam pertemuan di Ruang Situasi Gedung Putih, kata dua orang yang mengetahui masalah tersebut.
Pejabat pertahanan AS yang menerima pengarahan tersebut diberi tahu, penggunaan bom konvensional sebagai bagi bagian dari paket serangan yang lebih luas dari beberapa GBU-57, tidak akan menembus cukup dalam di bawah tanah dan hanya akan menimbulkan kerusakan yang cukup untuk meruntuhkan terowongan dan menguburnya di bawah reruntuhan.
Pejabat pertahanan AS juga diberi tahu untuk menghancurkan Fordow sepenuhnya, yang diperkirakan oleh intelijen Israel berada di kedalaman 300 kaki, AS kemungkinan besar harus terlebih dahulu melunakkan tanah dengan bom konvensional dan kemudian akhirnya menjatuhkan senjata nuklir taktis dari pesawat pengebom B2.
Penilaian tersebut dilakukan oleh Defense Threat Reduction Agency (DTRA), komponen Departemen Pertahanan yang menguji GBU-57, saat meninjau keterbatasan persenjataan militer AS terhadap sejumlah fasilitas bawah tanah.
Itu menggarisbawahi sifat kompleks dari serangan semacam itu dan apa yang akan terjadi jika berhasil: menjatuhkan GBU-57 kemungkinan akan menghambat kemampuan Iran untuk memperoleh uranium tingkat senjata hingga beberapa tahun, tetapi tidak akan mengakhiri program tersebut sepenuhnya.
Jangan dilupakan, Rusia, yang tahun ini menandatangani perjanjian kemitraan strategis dengan Iran, serta memiliki hubungan dengan Israel, telah memperingatkan AS untuk tidak terlibat dalam konflik ini.
"Ini (keterlibatan langsung AS) akan menjadi langkah yang secara radikal akan mengganggu seluruh situasi," Interfax mengutip pernyataan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov, dan mengkritik "opsi spekulatif dan dugaan" seperti itu, seperti dilansir dari Reuters.
Di sisi lain, Diego Garcia, pulau terbesar di Kepulauan Chagos, telah digunakan sebagai lokasi pangkalan militer gabungan Inggris-AS sejak tahun 1970-an karena posisinya yang strategis dan penting di Samudra Hindia, merupakan wilayah Inggris.
Inggris baru-baru ini menandatangani kesepakatan untuk mengembalikan Kepulauan Chagos ke Mauritius, dengan kesepakatan untuk menyewa Diego Garcia seharga 101 juta pound setiap tahun selama 99 tahun ke depan.
Namun, karena pangkalan Diego Garcia adalah wilayah seberang laut Inggris, izin akan diperlukan dari London sebelum serangan apa pun terhadap Iran dilakukan.
Inggris kemungkinan akan menghadapi pertentangan domestik untuk bergabung dengan AS dalam konflik tersebut. Perdana Menteri Keir Starmer mengadakan pertemuan darurat Cobra sekembalinya ke Inggris dari KTT G7 untuk membahas tanggapan Inggris terhadap krisis tersebut.
Jaksa Agung Lord Richard Hermer dilaporkan menyuarakan kekhawatiran tentang legalitas keterlibatan Inggris, dengan menyarankan agar Inggris membatasi hal ini pada dukungan "pertahanan".
Namun, Sir John Sawers, mantan kepala MI6, pada hari Kamis mengatakan kepada Konferensi London lembaga pemikir Chatham House, ia tidak melihat adanya hambatan terhadap lampu hijau Inggris untuk penggunaan kepulauan itu untuk misi Iran.
"Jika pesawat pengebom Amerika benar-benar menyerang, mereka hampir pasti akan melakukannya dari Diego Garcia," katanya.
"Kami baru saja menegosiasikan sewa jangka panjang sehingga mungkin ada pangkalan Amerika di Diego Garcia. Saya tidak melihat Keir Starmer berkata, 'oh, tetapi Anda tidak dapat menggunakannya. Saya khawatir'. Saya tidak melihat itu," tandasnya.
Baca juga:
Kendati demikian, ada kekhawatiran eskalasi lebih lanjut dengan Iran akan memiliki efek yang tidak diinginkan, memperkuat kembali ambisi nuklir Teheran.
Mantan Penasihat Keamanan Nasional Lord Peter Ricketts mengatakan Inggris "tidak boleh" mendukung potensi serangan AS terhadap Iran.
"Satu-satunya cara kita mengendalikan ambisi nuklir Iran dalam jangka panjang adalah dengan membuat kesepakatan dengan mereka," katanya.
"Saya pikir hanya kembali dan mengebom mereka setiap beberapa tahun tidak akan membuat dunia lebih aman. Malah, itu akan memperkuat tekad mereka untuk terus mengembangkan senjata nuklir setelah pertempuran ini berakhir," tandasnya.