Kasus COVID-19 Naik Lagi di India, Ini Gejala dan Varian Baru yang Ditemukan
JAKARTA – India kembali mengalami lonjakan kasus COVID-19. Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India melaporkan peningkatan signifikan, dengan 391 kasus baru dalam 24 jam terakhir per Sabtu, 7 Juni 2025. Jumlah kasus aktif kini mencapai 5.755 orang.
Dalam periode yang sama, empat pasien dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi COVID-19. Seluruhnya diketahui memiliki penyakit penyerta (komorbid), seperti gangguan tiroid dan masalah pernapasan.
Lonjakan ini turut dipicu oleh munculnya sejumlah varian baru virus corona, antara lain LF.7, XFG, JN.1, dan subvarian NB.1.8.1. Warga yang terinfeksi umumnya mengeluhkan gejala pernapasan—mulai dari yang ringan hingga berat.
Dua pasien perempuan berusia 66 dan 50 tahun yang dirawat di Rumah Sakit Manipal Broadway menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan. Keduanya memiliki penyakit bawaan, sehingga harus mendapatkan penanganan intensif setelah terkonfirmasi positif COVID-19.
Baca juga:
- Ahok Janji Sikat Mafia Tanah Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta dalam Memori Hari Ini, 7 Juni 2016
- Indonesia-Prancis Kerja Sama Bidang Kebudayaan di Candi Borobudur
- Istri Pensiunan TNI Kaget Suaminya Terlibat Narkoba: "Saya Suruh Jadi Sopir Ojol Buat Beli Rokok"
- BNN Gerebek Rumah Pensiunan TNI AD di Johar Baru, 25 Kg Sabu Senilai Rp50 Miliar Disita
“Kami mendeteksi kasus ini setelah hampir satu tahun tidak ada temuan. Dengan adanya peningkatan kembali, kami merekomendasikan pengujian bagi pasien bergejala yang memiliki komorbid,” ujar ahli mikrobiologi Shelly Sharma Ganguly, dikutip dari Times of India, Minggu (8/6/2025).
Sebagai respons, sejumlah rumah sakit di India mulai melakukan pengujian kembali terhadap pasien yang menunjukkan gejala COVID-19. Fokus utamanya adalah pasien dengan gejala SARI (Severe Acute Respiratory Infection) dan ILI (Influenza Like Illness), terutama yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.
“Pengujian ini penting untuk mengidentifikasi pasien dengan risiko tinggi. Bukan untuk menimbulkan kepanikan, tetapi langkah pencegahan,” jelas Partha Guchhait, ahli mikrobiologi dari Peerless Hospital.
Kendati demikian, tidak semua pasien mengalami gejala berat. Sebagian lainnya hanya menunjukkan keluhan ringan seperti demam ringan, pilek, batuk, dan sakit tenggorokan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar infeksi masih tergolong ringan, kewaspadaan tetap diperlukan—terutama bagi kelompok rentan dengan komorbiditas.