Menhan Nasirzadeh Tegaskan Iran akan Membalas Serangan Amerika Serikat atau Israel

JAKARTA - Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh mengatakan pada Hari Minggu, Iran akan membalas jika Amerika Serikat atau Israel menyerang.

Komentar Menhan Nasirzadeh muncul setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji untuk membalas Iran, setelah kelompok militan Houthi yang didukung Teheran menembakkan rudal yang mendarat di dekat bandara utama Israel.

"Jika perang ini dimulai oleh AS atau rezim Zionis (Israel), Iran akan menargetkan kepentingan, pangkalan, dan pasukan mereka - di mana pun mereka berada dan kapan pun dianggap perlu," kata Menhan Nasirzadeh kepada TV Pemerintah Iran, melansir Reuters 5 Mei.

Militan Houthi Yaman yang didukung Iran meluncurkan rudal yang mendarat di dekat Bandara Ben Gurion pada Hari Minggu, serangan terbaru dalam serangkaian serangan, dengan mengatakan mereka bertindak sebagai bentuk solidaritas dengan warga Palestina di Jalur Gaza.

"Serangan oleh Houthi berasal dari Iran. Israel akan menanggapi serangan Houthi terhadap bandara utama kami DAN, pada waktu dan tempat yang kami pilih, terhadap para pemimpin teror Iran mereka," kata PM Netanyahu di platform media sosial X.

Sejalan dengan sikap resmi Iran, Menhan Nasirzadeh mengatakan Houthi bertindak atas motivasi mereka sendiri.

Houthi yang berpihak pada Iran diketahui telah meluncurkan rudal dan pesawat nirawak ke Israel untuk mendukung pejuang Hamas.

Di sisi lain, Amerika Serikat telah menyerang benteng Houthi di Yaman sejak 15 Maret, dengan Presiden Donald Trump berjanji untuk meminta pertanggungjawaban Iran atas setiap serangan yang dilakukan oleh kelompok tersebut.

Iran "tidak memiliki permusuhan terhadap negara-negara tetangga", tetapi jika terjadi serangan, pangkalan AS yang terletak di wilayah tersebut akan dianggap sebagai target oleh Teheran, tegas Menhan Nasirzadeh.

Pernyataan menteri tersebut menyusul Iran yang pada Hari Minggu mengungkap rudal balistik berbahan bakar padat baru yang disebut "Qassem Bassir," memiliki jangkauan 1.200 km (750 mil), media pemerintah Iran melaporkan.