Jelang Waisak, Menteri Kebudayaan Fadli Zon Dorong Akses Inklusif dan Pemulihan Simbol Sakral Borobudur
JAKARTA - Menjelang perayaan hari raya Waisak, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan pentingnya menjadikan Candi Borobudur sebagai pusat spiritual dunia yang inklusif. Dalam rapat koordinasi pemanfaatan Candi Borobudur yang digelar di Museum Nasional, Minggu 4 Mei, Fadli menekankan bahwa Borobudur bukan sekadar situs religi, tetapi juga warisan budaya dunia yang hidup.
“Borobudur adalah pusaka dunia sekaligus magnet wisata budaya. Waisak adalah momentum diplomasi budaya Indonesia yang tak boleh dilewatkan,” kata Fadli dalam pertemuan bersama tokoh-tokoh dan organisasi masyarakat Buddha seperti dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Senin, 5 Mei.
Isu utama yang dibahas adalah akses ke bagian atas candi. Pemerintah menerima banyak aspirasi agar akses ke stupa utama lebih ramah bagi penyandang disabilitas dan lansia. “Borobudur harus bisa dijangkau semua kalangan. Kita dorong agar aksesnya lebih inklusif,” ujar Fadli.
Topik lain yang mencuat adalah pemulihan catra, payung suci yang secara spiritual dan historis dianggap bagian dari stupa utama. Simbol ini telah lama hilang dan menjadi perdebatan di kalangan umat Buddha serta arkeolog. “Banyak yang berharap catra dikembalikan sebagai bentuk pelestarian spiritual,” tambah Fadli.
Pertemuan ini dihadiri perwakilan dari Walubi, Permabudi, Buddha Suci, akademisi, dan budayawan Buddha. Mereka sepakat menjadikan Borobudur sebagai situs budaya yang dinamis dan terbuka, tidak hanya saat Waisak, tetapi sepanjang tahun.
Baca juga:
Fadli menegaskan perlunya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat Buddha, dan sektor pariwisata. “Kegiatan budaya di Borobudur harus tumbuh. Bukan hanya ritual keagamaan, tapi juga daya tarik wisata spiritual dan edukatif,” ujarnya.
Kementerian Kebudayaan berharap Borobudur menjadi simpul budaya dunia—sakral, hidup, dan inklusif. Sebuah situs yang tidak hanya dikenang, tapi juga dihidupi bersama.