Saham Apple Kembali Tertekan Akibat Eskalasi Tarif dari China dan Uni Eropa terhadap AS

JAKARTA - Saham Apple kembali menghadapi tekanan hebat setelah China dan Uni Eropa meningkatkan tarif balasan mereka terhadap kebijakan tarif Amerika Serikat. Hal ini, memicu kekhawatiran di kalangan investor bahwa Presiden Trump akan kembali merespons dengan langkah yang lebih agresif.

Perang tarif yang semakin memanas telah mengguncang pasar saham global dalam beberapa hari terakhir. Banyak perusahaan besar, termasuk Apple, mengalami penurunan valuasi secara drastis akibat kebijakan tarif besar-besaran dari pemerintahan Trump.

Pada penutupan perdagangan hari Selasa, saham Apple berada di angka 172,42 dolar AS, setelah empat hari mengalami tekanan jual yang cukup berat. Namun dalam perdagangan pra-pasar (pre-market), harga saham Apple turun lebih jauh ke sekitar 169 dolar AS, sebelum dibuka sedikit naik di angka  172,18 dolar AS. Di awal perdagangan, saham Apple sempat melonjak sekitar $3, mengikuti pola kenaikan sementara yang juga terjadi pada hari sebelumnya, sebelum kembali turun.

Akibat penurunan ini, Apple bahkan harus rela kehilangan statusnya sebagai perusahaan paling bernilai di Amerika Serikat. Pada penutupan pasar Selasa, kapitalisasi pasar Apple tercatat sebesar 2,59 triliun dolar AS, di bawah Microsoft yang kini mengambil alih posisi puncak dengan valuasi 2,64 triliun dolar AS.

Eskalasi Perang Tarif

Semua ini dipicu oleh keputusan AS untuk menaikkan tarif impor dari China sebesar 34%. Sebagai balasan, China menerapkan tarif yang sama untuk barang impor dari AS. Namun, alih-alih meredam ketegangan, Trump justru mengancam akan menaikkan tarif menjadi total 50% jika China tidak mundur dari keputusannya.

Pada 9 April, setelah China tetap pada pendiriannya, AS langsung memberlakukan kenaikan tarif tambahan tersebut, menjadikan total tarif impor dari China menjadi 104%. Tak tinggal diam, China juga menaikkan tarif mereka terhadap produk AS hingga 84%, naik 50% dari sebelumnya.

Komisi Tarif Dewan Negara China menyebut ancaman tarif tambahan dari AS sebagai “kesalahan yang ditumpuk di atas kesalahan” dalam pernyataan resminya.

Kini, giliran Presiden Trump yang ditunggu reaksinya terhadap langkah balasan terbaru dari China. Banyak pihak meyakini bahwa eskalasi lanjutan hampir pasti terjadi, yang berpotensi mengguncang pasar keuangan global dengan lebih parah lagi.

Uni Eropa Turut Bertindak

Tak hanya China, Uni Eropa juga mengumumkan langkah balasan mereka terhadap kebijakan tarif AS hanya beberapa saat sebelum pasar dibuka.

“Uni Eropa menganggap tarif dari AS sebagai tindakan yang tidak berdasar dan merugikan kedua pihak, serta merugikan ekonomi global secara keseluruhan. UE lebih memilih penyelesaian yang dinegosiasikan secara adil dan saling menguntungkan,” demikian pernyataan Komisi Eropa, Selasa pagi waktu setempat.

Tarif baru dari UE akan mulai diberlakukan pada 15 April, dan kelompok kedua akan menyusul pada 15 Mei. Meski rincian tarif belum diumumkan secara lengkap, kebijakan ini semakin memperbesar ketidakpastian di pasar.

Apple Dalam Posisi Rentan

Kondisi pra-pasar saham Apple yang tidak stabil mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak langsung tarif terhadap rantai pasokan Apple, yang sebagian besar masih berbasis di China. Banyak produk Apple kini berisiko dikenai tarif tinggi ketika masuk ke pasar AS.

Apple sendiri telah berusaha mengantisipasi dampak ini dengan menimbun stok produk di AS yang belum terkena tarif, serta mengalihkan sebagian produksi ke negara lain yang memiliki beban tarif lebih ringan. Namun, proses pemindahan produksi dari China ke negara lain — apalagi ke AS seperti yang dikehendaki Trump — bukanlah hal yang bisa dilakukan dalam waktu singkat. Perubahan ini bisa memakan waktu bertahun-tahun, bahkan mungkin melebihi masa jabatan Trump sebagai Presiden.

Namun, ketidakpastian tentang arah konflik dagang ini membuat investor sulit mengambil keputusan. Tidak ada yang tahu kapan perang tarif ini akan berakhir, atau seberapa besar dampaknya terhadap ekonomi global dan perusahaan seperti Apple.

Dengan tekanan dari dua kekuatan ekonomi besar dunia — China dan Uni Eropa — yang kini secara terbuka menantang kebijakan tarif AS, Apple tampaknya harus bersiap menghadapi badai pasar yang masih jauh dari kata reda.