Etno Record Hadir untuk Atasi Fenomena Cipta-Hilang Karya Musik di Ruang Akademik

JAKARTA - Karya musik bisa hadir dari banyak tempat, termasuk ruang akademik di kampus-kampus seni, yang sejatinya menjadi tempat para seniman muda menuntut ilmu. Dalam banyak kasus, mahasiswa di kampus seni kerap melahirkan karya musik baru – baik untuk keperluan tugas perkuliahan atau pementasan intra kampus – yang pada akhirnya hilang dan dilupakan begitu saja.

Untuk mengatasi permasalahan ini – yang disebut fenomena “cipta-hilang” – Jurusan Etnomusikologi, Institut Seni Indonesia Yogyakarta bekerjasama dengan Pragita Prabawa Pustaka Publishing untuk memperkenalkan sebuah label rekaman yang diberi nama Etno Record.

"Etno Record lahir dari kegelisahan menyaksikan fenomena cipta-hilang yang terjadi di kalangan musisi dan mahasiswa etnomusikologi. Banyak karya berkualitas diproduksi tetapi tidak pernah sampai pada tahap distribusi yang layak, apalagi monetisasi,” kata Dr. Citra Aryandari selaku Ketua Jurusan Etnomusikologi, melalui siaran pers yang diterima VOI, Kamis, 20 Maret.

Sebagai langkah awal, Etno Record memperkenalkan sebelas karya musik sebagai katalog perdana. Karya tersebut meliputi: lima lagu dangdut retro dari OM Mencari Tante yang membawa keunikan dangdut era 1980 hingga 1990-an; lima lagu keroncong yang dipadukan dengan electronic dance music (EDM) dari grup Edamame; serta single berjudul “Selamat Hari Raya” yang ditulis Yoga Supeno selaku pengajar di Jurusan Etnomusikologi dan dinyanyikan oleh Diva Aurel.

"Melalui label ini, kami ingin membangun ekosistem yang memungkinkan karya-karya inovatif seperti fusi keroncong-EDM dan pembaharuan dangdut retro tidak hanya diciptakan, tetapi juga didistribusikan dengan profesional dan mampu menghasilkan nilai ekonomi bagi para kreatornya,” tambah Citra.

Pemilihan katalog awal Etno Record mencakup tema yang beragam serta inovasi musikalnya. Karya OM Mencari Tante mengangkat tema klasik dangdut seperti percintaan dan kritik sosial, dengan teknik rekaman yang memadukan sentuhan vintage dan modern.

Kemudian, Edamame mencoba memberi terobosan dengan menyatukan elemen keroncong dengan musik elektronik. Sementara, single dari Yoga Supeno dan Diva Aurel menghadirkan sentuhan kontemporer pada musik perayaan tradisional.

Citra menyebut terobosan yang dilakukan adalah upaya untuk membuka jalur bagi para lulusan Jurusan Etnomusikologi untuk masuk kepada ruang lingkup profesional – yang selama ini menjadi hambatan utama bagi banyak kreator musik berbakat.

“Pragita Prabawa menyediakan infrastruktur dan pengetahuan industri yang memungkinkan karya-karya ini tidak hanya dipublikasikan, tetapi juga menghasilkan pendapatan yang adil bagi para penciptanya,” ujar Citra. "Keberagaman karya dari dangdut retro hingga fusi keroncong-EDM menunjukkan betapa banyak potensi kreatif yang selama ini tidak termonetisasi dengan baik."

Sebagai bagian dari strategi monetisasi, semua karya di Etno Record akan tersedia melalui berbagai platform streaming digital dengan skema pembagian royalti yang transparan untuk para kreator. Rilisan fisik seperti kaset dan vinyl juga masuk rencana untuk diproduksi. Selain itu, label ini juga akan lebih aktif memfasilitasi penggunaan karya untuk lisensi komersil, film, dan media digital lain – untuk memaksimalkan potensi ekonomi dari setiap karya.