Contoh Puisi Berantai 3 Orang yang Lucu dan Penuh Sarkasme

YOGYAKARTA – Puisi berantai 3 orang termasuk salah satu contoh puisi bebas, yakni puisi yang tidak terikat oleh pola rima ataupun irama.

Dalam dunia sastra, puisi berantai sering kali dijadikan sebagai media untuk hiburan. Jenis puisi ini merupakan gabungan beberapa puisi yang dibacakan oleh beorang dengan peran dan tema yang berbeda. Puisi berantai dibacakan dapat dibacakan oleh 2, 3, hingga 5 orang yang saling bergantian.

Puisi berantai umumnya mengangkat topik yang lucu tapi penuh sarkasme, sehingga cocok didengarkan ketika sedang membutuhkan hiburan untuk tertawa.

Mekanisme puisi berantai tampak mirip dengan drama, sebab sama-sama memerankan suatu peran, namun bedanya terletak pada dialog yang dibacakan.

Selain itu, puisi berantai hanya membacakan sesuai peran, tanpa benar-benar melakukan peran.

Agar lebih memahaminya, simak contoh puisi berantai 3 orang dalam ulasan berikut ini, sebagaimana yang dihimpun VOI dari berbagai sumber, Selasa, 25 Februari 2025.

Contoh Puisi Berantai 3 Orang

Berikut ini adalah dua contoh puisi berantai 3 orang yang lucu, menghibur, dan penuh sarkasme:

Contoh 1: Caleg, Petani, dan Maling

Caleg: Akan aku cerdaskan bangsa, untuk Indonesia tercinta. Namun, semuanya bisa kita lakukan jika bersama-sama. Karena…

Petani: Uang sudah dilipat di bawah meja, hingga meja pun tak bisa melihatnya. Sudah letih menggarap sawah, hasil tak ada, pajak pun hanya mengenyangkan perut pejabat yang seperti…

Maling: Monyet, aku terbiasa disebut monyet, panjang tangan dan sebutan indah lainnya. Nyawa menjadi pertaruhan, demi sesuap nasi untuk mengenyangkan. Petani: Perut pejabat gendut-gendut, dalam perutnya ada emas rakyat, ada beras petani, ada pajak para pedagang kecil. Lihatlah kami, sengsara merasakan…

Caleg: Kebahagiaan besar untuk kami, mampu memperjuangkan hak para petani, hak kaum buruh yang terinjak-injak, hak para anak generasi bangsa. Untuk para koruptor, akan ku…

Maling: Biarkan. Walau aku disebut monyet, maling atau apalah. Anak-anakku butuh sesuap nasi, butuh lembaran bergambar presiden Soekarno untuk pendidikannya, hanya sebatas ayam tetangga, aku bisa di…

Caleg: Hukum mati. Untuk mereka yang sudah menggelapkan uang rakyat, mari kita…

Petani: Potong. Lalu tinggal dicangkul dan terus seperti itu. Namun, pupuk kain naik harganya, adakah pejabat memikirkan nasib kami para petani? Di sini kami terseok-seok di antara tanaman padi, sementara di sana mereka…

Maling: Mencuri dengan terpaksa, maafkan aku anak-anakku, sebenarnya tak ingin kucukupkan perutmu dengan uang haram. Apa daya, pekerjaan susah diperoleh, harga kebutuhan pokok semakin naik. Walaupun nanti aku ketahuan dan dibunuh oleh mereka yang…

Caleg: Mencuri uang rakyat.

Contoh 2: Pejuang, Pecinta, dan Peternak Ayam

Pejuang: Seuntai sajak perjuangan buat generasiku.

Pecinta: Seuntai sajak asmara untuk kekasihku.

Peternak Ayam: Seuntai sajak kehidupan ternak ayamku.

Pejuang: Pada pertengahan Agustus 45, kami bangkit merebut Kemerdekaan kami siramkan darah perjuangan, tapi aku masih berbaring diatas…

Pecinta: Kekasihku, Aku tak meyangka engkau begitu tega melakukan itu, Kau putuskan cintaku yang suci, Ingin rasanya aku melumat kembali..

Peternak Ayam: Pantat ayamku, kini tampak membesar, sebentar lagi telur akan keluar lewat...

Pejuang: Celah–celah benteng perjuangan, akan ku hancurkan penjajah, aku muak, aku benci kekerasan, dan ingin rasanya kubunuh…

Pecinta: Kau sia siakan cintaku, dulu kala cinta kita bersemi, kau merengkuh dalam dekapanku, dan kini…

Pejuang: Hanya tinggal setetes darah, tapi aku masih berdiri kokoh, kutantang seribu penjajah, dengan sebilah pedang pedang dikananku, seujung keris dikiriku, aku hancurkan...

Pecinta: Surat cinta yang kau kirim dulu, kini masih tersimpan dibuku diary, kubiarkan semua kenangan, tapi aku tak mampu mengeluarkan...

Peternak Ayam: Telur–telur ayamku, yang besar–besar, sebentar lagi menetas… dn aku akan banyak mempunyai...

Pejuang: Mayat–mayat yang terbujur kaku, dengan penuh luka didada, kalau maut mengancamku, aku takan berpaling dari…

Pecinta: Matamu, yang besar bagai bola bekel, tapi kini hanya tinggal…

Peternak Ayam: Bulu ayamku, tumbuh satu persatu, kini kulihat membesar, Oh, betapa bahagia hatiku, ayamku...

Pejuang: Kubunuh kau. Kau penghianat. Aku pimpin laskar perjuangan, takkan gentar oleh seribu...

Pecinta: Bayangan cintamu yang biru, dan kini kau berpaling dariku.

Demikian informasi tentang puisi berantai 3 orang. Dapatkan update berita pilihan lainnya hanya di VOI.ID.