Mantan Penasihat Keamanan Nasional Inggris Samakan Krisis Kapal Selam Nuklir dengan Perpecahan Perang Irak
Ilustrasi kapal selam Australia HMAS Rankin (SSG 78). (Wikimedia Commons/U.S. Navy/Seaman Ryan C. McGinley)

Bagikan:

JAKARTA - Mantan Duta Besar Inggris untuk Prancis prihatin, kesepakatan kapal selam nuklir yang menyebabkan merenggangnya hubungan Amerika Serikat, Australia dan Prancis, akan merusak Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Peter Ricketss yang menjabat sebagai Duta Besar Inggris untuk Prancis tahun 2012 hingga 2016 mengatakan, keputusan Canberra untuk membatalkan kontrak dengan Paris untuk kapal selam bertenaga diesel demi kapal selam bertenaga nuklir dari Washington mendorong perpecahan di antara sekutu dan melemahkan aliansi transatlantik.

"Saya pikir langkah ini tentu saja merusak kepercayaan Prancis pada NATO dan sekutu NATO, dan karena itu memperkuat perasaan mereka, jika mereka harus mendorong otonomi strategis Eropa," katanya kepada AFP, seperti mengutip Macau Business 21 September.

"Saya pikir itu hanya akan merusak NATO, karena NATO bergantung pada kepercayaan. Pekerjaan perbaikan harus segera dimulai," sambungnya.

Para menteri luar negeri Uni Eropa akan membahas pakta pertahanan baru yang ditandatangani antara Amerika Serikat (AS), Australia dan Inggris, di sela-sela Sidang Umum PBB Senin kemarin.

Kesepakatan yang dijuluki 'AUKUS' tersebut diumumkan minggu lalu, diikuti dengan kesepakatan pembangunan delapan kapal selam nuklir berteknologi AS untuk Australia, membuat Negeri Kangguru membatalkan kesepakatan pembangunan kapal selam konvensional senilai 40 miliar dolar AS. Ini mendorong Prancis untuk mengklaim telah 'ditikam dari belakang' oleh Australia dan memicu perang kata-kata yang marah.

Ricketts, diplomat top Inggris di Paris antara 2012 dan 2015, menyamakan perselisihan itu dengan oposisi Prancis terhadap upaya Presiden AS George W. Bush untuk berperang di Irak.

Presiden Prancis saat itu, Jacques Chirac, memperingatkan konflik untuk menggulingkan Saddam Hussein, hal yang didukung oleh Jerman, menjadi kubu yang enggan menggempur Irak. Sementara, Amerika Serikat dan Inggris saat itu ingin mengempur Irak, kendati tidak ada dukungan atau mandat Dewan Keamanan PBB.

"Itu (kesepakatan kapal selam nuklir) akan diingat di Prancis, saya yakin, seperti keretakan di Irak pada tahun 2003, dan segalanya tidak akan sama lagi," tukas Ricketts.

"Saya pikir itu akan cenderung memperkuat perasaan di antara orang Eropa, Amerika sekarang adalah sekutu yang kurang dapat diandalkan daripada sebelumnya," tambahnya.

Ricketts, yang merupakan perwakilan tetap NATO pada 2003-2006 mengatakan, Prancis akan memandang perselisihan itu sebagai titik balik dalam hubungan dengan Amerika Serikat dan Inggris.

"Ini memperkuat perasaan di Paris, saya menangkap, Amerika Serikat semakin berpaling dari sekutu keamanan Eropa dan fokus pada konfrontasi mereka dengan China. Dan Inggris, dengan langkah ini mengikuti arah yang sama," paparnya.

Sebelumnya, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah berusaha untuk mengecilkan efek apa pun pada hubungannya dengan Prancis, bersikeras Negeri Kangguru tetap menjadi salah satu sekutu militer terdekatnya.

Sementara, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian menuduh London, yang baru-baru ini memperbarui kebijakan luar negerinya di kawasan Indo-Pasifik pasca-Brexit, sebagai oportunisme konstan.